Wednesday, April 24, 2013

Serial Ali : Episode Boh Rambot

  Perkenalkan, namanya Ali, salah satu dari sekian banyak aneukmiet di desa Lam Ilie Blang. Usianya baru 13 tahun, siswa kelas 1 MTsN desa setempat. Ia anak ke 3 dari 4 bersaudara, dan semuanya laki-laki. Namun saudaranya tinggal Adi dan Ahmad, sedangkan Amin, anak kedua meninggal saat berusia 10 tahun pada suatu kecelakaan yang konyol akibat kenakalannya sendiri, tenggelam di sumur keramat di kebun rambutan.

      Kini rambutan di Indrapuri tengah ranum. Dan itu berarti 1 tambahan tugas baru bagi Adi dan Ali, dua pangeran nakal dari keluarga Yunus. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Adi ditugaskan ayah menjaga kebun di siang hari sepulang sekolah, sedangkan Ali dikhususkan sebagai tukang petik ketika panen tiba. Namun Ali tak puas oleh pembagian tugas tersebut, dengan senang hati ia menawarkan diri pada Adi untuk membantunya. Jadilah setiap siang mereka berdua mengaso di balai kebun sambil makan pisang goreng yang di bawa dari rumah.      "Bang, bang, bang. Na tupee bak sagoe jeh!-ada tupai disudut sana!" Ali mengguncang-guncangkan pundak Adi dengan keras sehingga pisang goreng yang ada di tangannya jatuh kembali ke piring.



      Adi bangkit dengan segera, meraih senapan angin di pojok balai dan melompat menuju tempat yang ditunjuk. Berbanding terbalik dengan keterburu-buruan Adi, Ali dengan santainya mencomot the last pisang goreng dari piring dan menyuapkannya ke mulut. Tepat selangkah sebelum Adi sampai di balai, pisang tersebut telah meluncur seluruhnya kedalam lambung Ali.  

      "Pat tupee, hana lagoe? - dimana tupainya, ga da kok?" protes Adi yang sadar telah diperdayai Ali. "Pat? ulat. Ho iku? ateuh bak langsat-dimana? Ulat. Kemana ekornya? Di atas pohon langsat" cerocos Ali tak nyambung.      "ka troe neuh.. Kiban, mangat pajoh jatah lon? - udah kenyang.. Gimana, enak makan jatahku?" adi cemberut, kesal pada bocah tengik yang telah mengkorupsi haknya. "mangat lah bang.. Troe lon - enak lah bang, kenyang aku" sahut Ali tanpa sedikit pun rasa bersalah.      "kajeut meunyoe meunan. jinoe kah jaga lampoh, lon keuneuk woe jak pajoh bu! - oke kalo gitu,sekarang kau jaga kebun. aku mau pulang untuk makan!"

      Adi pulang sambil terus mengomel panjang-pendek. Ali tak ambil pusing dengan abangnya itu, ia merebahkan tubuhnya di lantai balai dan memejamkan matanya.

***
     Ayah marah besar. Gara-gara Ali ketiduran ketika menggantikan Adi menjaga kebun. akibatnya, satu pohon rambutan ludes buahnya dipetik orang tak dikenal. ali tak sadar tertidur kekenyangan ditinggal Adi sendirian di kebun hingga malam menjelang. ketika membuka mata, ayah telah berdiri di depan sambil menyorotkan lampu senter ke wajahnya.

     Ali menunduk sepanjang perjalanan kaki menuju rumah. tak berbicara walau hanya sepatah. Keadaan kebun yang gelap gulita dan dengungan jangkrik yang menggoda kuping tak lagi membuatnya takut. padahal biasanya ialah yang paling keras berteriak kalau Adi iseng mematikan lampu untuk mengerjai adik-adiknya.satu-satuya yang difikirkannya saat ini adalah hukuman yang mungkin akan diberikan ayah kepadanya. kemarahan ayah lebih ditakutinya dari pada hantu manapun yang pernah dilihatnya di film horror. Ali sadar dirinyalah yang bersalah, yang menyebabkan keluarganya rugi jutaan rupiah, meskipun ayah tak pernah menyebutkan jumlahnya.

     "Sang ka payah peu bloe kameng.... - sepertinya harus jual kambing..." Goda Adi tanpa rasa bersalah. padahal dialah yang menyebabkan kebu mereka kemalingan. menjaga kebun kan tugasmu bang! Rutuk Ali dalam hati. Namun Ali tak berani melawan, jika Adi mengungkit tragedi pisang goreng yang bikin Adi ngambek dan pulang, semua kesalahan akan bertumpu padanya.

      Ali teringat Simen, kambing jantannya yang perkasa. jika Simen harus dijual untuk menebus kerugian akibat kelalaiannya, tiga ekor anak da seekor betinanya pasti tak akan berhenti mengembek di telinganya,menuntut agar simen dikembalikan.

     Tidak, Simen tak boleh dijual!berontak batin Ali disertai dukungan keempat kambingnya yang lain. Ayah menghadiahkan Simen dan Siti setahun lalu saat ia berhasil mendapat peringkat ketiga di kelas, hal yag selama ini selalu dianggap mustahil oleh siapapun. saat itu ia merengek-rengek minta dibelikan motor seperti halnya Adi. tapi Ayah malah menghadiahinya dua ekor kambing yang bau.

     "Kambing itu akan lebih bermanfaat dari pada motor jika kau pandai memeliharanya. jika suatu saat mereka berkembang biak menjadi banyak, kau akan dapat berqurban dari hasil kerjamu sendiri, kaujuaga akan mengeluarkan zakat dan mendapat pahala yang banyak. jika ingin, kau bisa membeli motor sendiri dengan menjual kambingmu" begitu penjelasa ayah ketika Ali mengajukan protes kepadanya.

     sungguh teganya Ayah kalau ia betul-betul menjual kambingnya. Ali sendiri yang telah merawat kambing tersebut hingga beranak pinak. Tapi belakangan ini hubungan Ali dan kambing-kambingnya jadi agak renggang. memang benar ia masih setia memotong rumput setiap sepulang sekolah sebagai makanan kelima kambingnya. namun ia hanya mencampakkan begitu saja umpang - karung berisi naleung - rumput tersebut di depan kandang, lantas pergi menyusul Adi ke kebun.

      sementara Ahmad yang tak tega malihat penderitaan kambing-kambing tersebut kemudian menyuapkan rumput ke mulut mereka.

      pintu rumah di buka. Ali langsung menyerbu kamar mandi tanpa di suruh. ia sadar sepenuhnya belum melaksanakan shalat magrib. terburu-buru ia shalat sebelum azan Isya berkumandang.

      Ayah memanggil Ali ke dapur. semua telah menunggunya di sana. Ali membayangkan ia akan segera disidang. ayah sebagai hakim dan Adi berpera sebagai jaksa penuntut umum. sedangkan ibu, akankah menjadi pengacara yang membelanya? sementara Ahmad, tak usah diharap, ia pasti akan menjadi saksi yang membeberkan kelalaiannya dalam mengurus simen sekeluarga. apapun yang akan terjadi, Ali sudah pasrah. goodbye simen...

     Ayah duduk di meja da mengajak semuanya bergabung. kemudian beliau menadahkan tangannya, mengucap basmallah da di lanjutkan dengan "Allahumma baarikhlanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa 'azabannaar.."

     setelah makan malam tanpa berkata-kata. ibu menghidangkan semangkuk besar rambutan sabagai pencuci mulut. Ali terbelalak. rugi-rugi begini tetap juga di konsumsi dalam porsi besar seperti ini?

     "get that panen tanyoe uroenyoe - bagus sekali hasil panen kita hari ini" komentar ibu.

     "nyoe lah.. lon yang jaga lampoh - iya dong, aku yang jaga kebun" Adi  membusungkan dadanya, mirip gorilla.

     sementara yang lai terus melahap rambutan satu persatu, Ali masih melotot memandang rambutan dalam mangkok yang semakin berkurang jumlahnya.

     "nyoe ayah poet bunoe... Ali teungeut bak jamboe, jadi hana ayah pugoe - ayah yang petik tadi... ali ketiduran di saung, jadi tak ayah bangunkan" Terang ayah seolah tahu keheranannya.

     Ali kontan menjambak rambut Adi yang duduk di sampingnya. putra mahkota utama itulah yang telah menakut-nakutinya denga mengatakan bahwa rambutan mereka dicuri orang. untung saja Ali belum sempat berdoa agar Tuhan mengutuk maling tersebut. kalau tidak, seluruh anggota keluarganya akan diare malam ini.

     diam-diam Ali tersenyum, ia tak jadi berpisah dengan Simen.