Tuesday, April 23, 2013

Maulid dan Pernak-Perniknya.



Minggu lalu (14/4/13) merupakan hari perayaan maulid di desaku. Seperti yang diketahui, perayaan maulid di daerah-daerah di Aceh besar selalu meriah. Makan-makan dan ceramah menjadi unsure utama perayaan.
Sebenarnya tidak ada hal yang begitu special pada perayaan maulid kali ini. Seperti biasa, siang harinya warga menjamu tamu dari desa-desa tetangga dengan hidangan khas kenduri yang bertempat di meunasah dan beberapa rumah penduduk. Lalu pada malam harinya barulah giliran rohani yang diberi asupan gizi, ceramah maulid.
Para penceramah yang diundang pada gelaran peringatan maulid selalu humoris – sejauh yang saya temui. Entah itu sudah menjadi syarat wajib atau hanya inisiatif panitia agar warga betah mendengar hingga tengah malam. Karena jika pidatonya datar dan membosankan, dapat diperkirakan warga hanya bertahan sepuluh menit lalu berbondong-bondong pulang.

Baiklah, bukan itu yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Tapi perihal tamu undangan dan makan-makan.


Bagi anda yang berdomisili di Aceh, khususnya Aceh Besar. Pernah tidak memperhatikan tabiat (kebiasaan) orang Aceh jika hendak bertamu? Mereka pasti sibuk memikirkan buah tangan. Sepertinya memang tradisi, orang Aceh selalu membawa oleh-oleh berupa gula, the, biscuit, susu dan lainnya saat bertamu. Ada yang hanya membawa satu jenis saja, namun ada pula yang memborong empat macam sekaligus!
Maka jika kita kalkulasikan, tradisi memuliakan tamu di Aceh tidak pernah merugikan. Karena setiap tamu yang dating membawa buah tangan untuk si tuan rumah. Ini bukan perihal ikhlas atau pun pamrih. Tapi melihat gejala budaya yang kental ini, terkadang saya berpikir; apakah perilaku semacam ini termasuk dalam katagori boros? Apalagi si tuan rumah juga mengimbangi dengan hidangan yang tergolong ‘wah’.

Seolah memang sebuah keharusan, hidangan kenduri di Aceh besar melibatkan bahan utama berupa daging. Tak terkecuali pada perayaan maulid. Sekali lagi, seolah wajib! Si empunya kenduri merasa malu jika tidak menghidangkan lauk utama berupa ‘kuah daging gulai nangka’ – apa sih nama resminya? Saya tidak tahu.
Belum lagi diiringi dengan makanan dan minuman pencuci mulut seperti ketan, serabi, tape, es mentimun serut, rujak dan banyak lagi jenisnya.

Sebab itu ketika saya meminta agar menu hidangan maulid kali ini tidak dominan daging tapi sayur, ibu saya bilang; “nyan ka hana hi sagai…”(Itu sudah tidak bisa dibilang (kenduri)).
Oke, sebagai penutup, balik lagi ke perihal buah tangan.
Sebenarnya tidak banyak tamu pada maulid kali ini. Tapi saat memasuki dapur di sore hari saya menemukan gunungan gula yang merupakan buah tangan dari tamu-tamu yang hadir. Tak hanya ada gula, bersamanya juga terdapat biscuit dan the. Setelah menilik jumlah bungkusan, saya mengetahui ternyata jumlah gula itu lebih dari sepuluh kilo!
Gula sepuluh kilo? Hendak dikemanakan itu semua? Sempat terpikir oleh saya untuk mengangkutnya ke Banda Aceh dan menjualnya kembali. Namun itu hanya sekedar pikiran yang tidak ingin saya wujudkan. Selain merepotkan, ibu juga pasti akan melarang.
Belajar dari pengalaman tahun lalu. Saya mendapati gula bermerk yang teronggok di dapur pada suatu hari. Saat itu matahari sedang terik dan saya kontan tergoda untuk meneguk the dingin. Ketika telah bersiap untuk menyeduh the, Ibu saya menyela aktivitas tangan saya yang saat itu hendak menggunting ujung bungkusan plastic si gula bermerk. “Saka nyan ka hana get lee.” (gula itu sudah kadaluarsa) Tuturnya.
Saya spontan membaliknya sisi bungkusan gula, mencari-cari stempel tanggal produksi dan kadaluarsa. Ternyata benar, gula tersebut telah dinyatakan ‘mati’ sebulan yang lalu.
Jadi pakoen neubloe teuma?” (jadi kenapa dibeli?) Tanya saya heran. Gula itu mahal, kami malah tidak pernah membelinya sebelumnya.
“Hana bloe, ata gob ba watee maulid.” (bukan beli, buah tangan waktu maulid), Jelasnya.
Maulid itu setahun yang lalu. Saya menggeram. Gula semahal ini dibiarkan hingga kadaluarsa? Akhirnya saya beranjak dari meja makan, menuju sudut dapur dan melemparkan seplastik utuh gula bermerk tersebut ke tong sampah dengan tega.