Tuesday, December 10, 2013

November


disclaimer


Aku berdiri di ujung Desember, mengamatimu yang masih terpuruk dalam liang November. Sekuat apapun aku mencoba menarikmu keluar, aku tak mampu. Karena lenganku tak berhasil mencapai jemarimu yang tak kau ulur untuk menerima niatanku.

Angin menampar wajahku, rinai dingin pula menyusup ke dalam kulitku, membekukan otot-otot dan setiap sendi. Aku ingin pergi, bergegas mencapai rumah dan menghangatkan diri dengan secangkir teh melati.
Tapi kau masih di sana… menatap ke masa lalu dari tengah jembatan waktu. Dan aku tidak bisa meninggalkanmu. Tidak lagi.

Riak di bawah sana membentuk ombak oleh angin yang semakin keras bergejolak. Pinus-pinus itu berjuang untuk tetap berdiri, sementara putaran angin kian giat mencoba mematahkan pertahanannya. 

Aku masih berdiri di tempat semula, meski matahari telah memanggilku untuk melangkah ke hari berikutnya. Ketika ia pamit bersama kumandang azan, aku semakin ragu. Sebelah telapak kakiku mengambang di atas tanah, menuntutku untuk segera melangkah. Aku menoleh padamu sekali lagi, berharap kau mengobati hatimu dan ikut denganku. Tapi kau masih bertahan di  tengah November, mengubur diri dalam rasa kehilangan. 

Apakah kau memilih tinggal di sana selamanya? Kutahan tanya itu ditenggorokan. Karena meski kusuarakan, tak akan ada jawab yang kuterima. Kau bisu. Semenjak suatu hari di November itu.

“Mari pulang.” Dua kata itu yang selalu kuucap seraya menarik lenganmu, membawamu pulang dengan paksa. 

Tak sadarkah kau bahwa kesedihanmu menjadi penderitaan bagiku? Mengawasimu menangisi kepergiannya setiap hari, menemani di sebelahmu tapi bahkan kau lupa pada keberadaanku. Sementara kau berjalan terseok-seok mendahuluiku, kuamati figurmu dan membandingkannya dengan sosok yang terekam dalam ingatanku sebulan lalu. Aku merapatkan tanganku di atas dada, jaket yang kupakai tak begitu berhasil menghalang dingin dan mencipta sesak di paru-paru. Kutatap sosok tegapmu, tapi bahkan tubuh kekar itu tak sangat hebat untuk melawan badai perasaan yang menimpamu.

“Dedaunan menguning dan cuaca menjadi dingin. Meski saat itu adalah musim gugur, senyummu selalu merekah kala November.”

Kalimat itu lagi. Sepertinya itulah satu-satunya bahasa yang masih tertinggal di dalam memorimu. 

Kutelan perasaanku mentah-mentah. Aku tidak mungkin menangis di hadapanmu. Bahkan meski kau tak lagi mengenaliku. Aku tidak ingin lemah sepertimu. Tidak akan!

Aku terus berjalan menyusuri Desember, dan merangkulmu di sisiku. Meski begitu, aku tahu kau tak nyata dalam sentuhanku. Kau masih di sana, terjebak dalam jerat November.

Kamar Sunyi, 10 Desember 2013.