Sunday, December 7, 2014

The Tale of An Invisible Child : "Supaya Tahu Diri"


disclaimer
    Tetiba saja saya jadi teringat dengan kelas perdana mata kuliah Psikologi Perkembangan Dewasa-Lansia awal semester ini. Seperti biasanya, dosen melemparkan pertanyaan cliche pada sesi pengantar mata kuliah: “Kenapa kita harus belajar mata kuliah ini?” Pertanyaan yang cenderung membosankan bagi saya mengingat hampir semua dosen mengajukan pertanyaan yang sama di setiap pertemuan perdana mata kuliah yang diampunya.

         Saya tidak begitu tertarik untuk beropini pada saat itu dan menyibukkan diri dengan pikiran saya sendiri sementara kelas riuh oleh teman-teman yang bergilir menyampaikan pendapatnya, hingga suatu kalimat dari dosen yang menanggapi dan membenarkan pendapat salah satu mahasisiwa sukses menggiring imajinasi liar saya kembali ke ruang kelas.

           “Ya, supaya kalian tahu diri.”

           Begitulah redaksinya. Singkat dan datar.

         Saya tersenyum saat itu, karena memang sang dosen mengucapkannya sambil tertawa renyah yang disambut dengan mood yang sama oleh penghuni kelas. Namun, kalimat humor tersebut tak langsung kabur menyelinap keluar telinga saya. Malah sampai saat ini saya merasa tertohok dengan penjelasan dosen terkait istilah “tahu diri” tersebut. Melalui mata kuliah tersebut beliau mengingatkan seisi kelas bahwa kami tidak lagi dikategorikan remaja dan telah masuk ke dalam golongan “dewasa awal” dan kami punya tanggung jawab tertentu. Oleh sebab itu, tanggung jawab utama kami adalah “tahu diri”.

       Ingin tersenyum ketika mengingat potongan memori itu, tapi malah kedua mata saya yang menyipit dan memuntahkan cairan hangat dari kedua ujungnya. Pada akhirnya saya menangis sambil memaksakan diri tersenyum. Hampir gila.

         Sesaat lalu ketika mencermati kembali jalan yang baru saya temukan beberapa hari ini yang saya pikir akan mengantarkan saya ke tujuan dengan cepat, saya menyadari bahwa jalan itu cukup terjal untuk saya lalui. Saya bukan pendaki gunung, jadi berusaha menakhlukkan Mt. Everest adalah hal gila untuk percobaan pertama.

         “Supaya tahu diri”

        Kalimat itu memenuhi kepala saya lagi. Menyadarkan saya yang mungkin sudah mulai tidak tahu diri dengan mimpi-mimpi saya. Mungkin selama 20 tahun ini saya mengalami delusi bahwa saya invincible sementara kenyataannya saya hanyalah a poor invisible girl.

disclaimer

Indrapuri, Desember 2014