Tuesday, March 25, 2014

Renungan Pagi: Telepon Dari Ayah

Pagi ini tiba-tiba aku teringat rumah. Padahal aku baru saja kembali ke Banda Aceh Minggu sore lalu. Dan sebenarnya aku juga berjanji akan pulang lagi Rabu sore ini. Tapi menahan rindu itu menyiksa. Karena saldo pulsa tidak mencukupi, akhirnya kuputuskan untuk meminta Ayah yang menelepon ke nomorku. Karena memang ada beberapa hal yang ingin kusampaikan kepadanya.

Tak berapa lama setelah sms terkirim, deringan ponsel terdengar. Telepon dari Ayah. Aku menjawab panggilan tersebut setelah menyetel suara terlebih dahulu, tak ingin terdengar seperti baru saja bangun tidur.

Suara dengan tingkat keserakan yang tinggi menjawab salamku dari seberang. Itu bukan suara beliau yang biasanya. Maka kupancing dengan menanyakan apakah beliau akan pergi ke sekolah (mengajar) hari ini dan beliau mengatakan telah berada di sekolah saat itu. Tetap saja aku merasakan suatu hal yang janggal. Hanya karena suara beliau yang berat dan tidak tegas seperti biasanya.

Aku mengkhawatirkan kesehatannya. Apakah beliau sakit atau baik-baik saja. Ingin kulontarkan pertanyaan itu, namun kalimat yang tak selesai kurangkai itu terpaksa kembali kutelan mentah-mentah. Karena dari nada suara beliau di kalimat terakhir, terdengar seperti ingin segera mengakhiri panggilan. 

Setelah mengkonfirmasi mengenai hal-hal yang telah kusampaikan, Ayah kemudian mengakhiri panggilan. Aku menghela napas berat seraya melepaskan ponsel dari genggaman. Kemudian kembali berbaring dan menatap langit-langit. 

Tidak tenang. Itulah yang kurasakan setelah mendengar suara beliau dari seberang. Sungguh, aku dapat membayangkan rautnya yang berkerut dan gesturnya yang tak bersemangat dari corak suara beliau pagi ini. Karena warna suara beliau yang demikian hanya akan kudengar ketika aku terbangun di tengah malam dan mendapati beliau tengah sendirian di dapur. Melepaskan letihnya setelah bekerja seharian sebelum beranjak tidur. 

Terus terang saja, suara beliau terdengar seperti serak yang tercipta ketika pertama kali berbicara setelah berjam-jam menangis. Aku benar-benar khawatir. Tidak ingin percaya bahwa beliau benar-benar tengah berada di sekolah saat kami berbicara di saluran telepon. Aku berinisiatif menanyakan hal ihwal beliau kepada kakakku. Namun belum sempat prasangkaku merangkak lebih jauh, dering ponsel terdengar lagi. Ayah.

Segera kujawab panggilan tersebut dengan mengucap salam. Kudengar beliau membalasnya masih dengan keserakan yang lama. Aku kemudian menunggu apa yang ingin beliau sampaikan. Setelah beberapa detik hening beliau kemudian bertanya;

"Sudah baca koran pagi ini?" 


Itu pertanyaan yang tidak biasa. Aku tak segera menjawabnya dan mengambil waktu untuk menerka maksud pertanyaan tersebut. Sedikit khawatir jika terdapat berita buruk di sana.

"Belum." Aku menjawab dengan jujur. Aku tak berlangganan koran dan hanya sesekali mempunyai kesempatan membacanya jika menemukan koran di lounge ataupun di perempatan jalan saat lampu merah menyala dan loper koran datang menghampiri. Ya, aku membaca headline-nya saja.

"Ada apa, Yah?" Kusuarakan keingintahuanku karena ayah memang terkesan menungguku melontarkan pertanyaan itu.

Kudengar helaan napas dari saluran telepon. Beliau mengambil waktu sebelum menjawab pertanyaanku, membuatku semakin tegang menantikan apa yang sebenarnya ingin beliau sampaikan.

"Bacalah koran pagi hari. Halaman depannya." Ucap beliau kemudian. Benar-benar membuatku penasaran. "Sebagai orangtua ayah sangat khawatir." Kata beliau lagi. Beliau sepertinya sama sekali tidak ingin mengatakan topik apa yang ditulis wartawan di edisi hari ini, sehingga beliau menyuruhku membaca sendiri ketimbang menyampaikan intinya. 

"Baik, Ayah." Menyadari bahwa aku tak mungkin memaksa beliau untuk menjawab rasa penasaranku, aku iyakan permintaan beliau untuk membaca seluruh berita di halaman depan surat kabar ternama di kota kami.

Sebelum memutuskan sambungan telepon, ayah sekali lagi mengutarakan betapa khawatirnya beliau setelah membaca berita di koran hari ini. Aku paham bahwa kekhawatiran itu berhubungan erat denganku. Bahkan sebelum mengetahui apapun yang terdapat di koran hari ini, aku tahu secara tidak langsung beliau mengatakan bahwa aku sama sekali tak boleh terlibat dalam hal-hal demikian. Bahwa beliau akan melakukan apapun untuk mencegah hal semacam itu terjadi.

Setelah panggilan diakhiri aku bergegas menyalakan laptop dan mengakses internet, mencari tahu berita macam apa yang telah membuatku ayahku demikian khawatirnya. Dan aku sangat memaklumi beliau setelah membaca seluruh konten berita yang dimuat di halaman web tersebut. 

Kau tahu, liputan eksklusif di Serambi Indonesia hari ini;

                                                           (aceh.tribunnews.com)

Tak perlu repot menanyakan orangtuamu, kau pasti tahu apa yang mereka rasakan saat menangkap kalimat tersebut di halaman pertama koran hari ini, dicetak dengan huruf besar. Terlebih setelah meneliti seluruh kalimat di bawahnya. Kau tahu, kau tahu yang menjadi kekhawatiran terbesar orangtuamu saat ini adalah dirimu. Apalagi bagi mahasiswa yang tinggal sendirian di Banda Aceh dan orangtua jauh di kampung. Mungkin orangtuamu juga melakukan hal yang sama dengan ayahku setelah membaca liputan tersebut. Meneleponmu untuk memastikan bahwa kau tidak menjadi bagian dari golongan remaja yang diberitakan hari ini.

Sebagai mahasiswi yang mempelajari ilmu psikologi aku tak lagi asing dengan isu semacam ini. Aku telah lama tahu tentang kehidupan malam di kota syari'at ini. Tentang kehancuran akhlak remaja dan ketidakpedulian orangtua. Semenjak pertama kali tinggal terpisah dari orangtua lima tahun lalu, aku menjadi saksi dari kebrobrokan akhlak yang terjadi.

Akses informasi tentang hal ini sebenarnya tak setertutup yang dipikirkan. Entah apa yang terjadi pada akhlak remaja di kota ini, namun hal-hal yang seharusnya memalukan untuk dilakukan di depan umum kini seolah menjadi kebanggaan. Seolah kata 'malu' dan 'aib' tak lagi dikenal di ranah ini.

Dari penuturan teman-teman yang mempunyai lingkaran pertemanan yang lebih luas dariku, aku mengetahui bahwa seks bebas sudah seperti jajanan pasar di Banda Aceh. Orang-orang yang kau anggap biasa dan menjadi teman dekatmu bisa saja salah satu pelakunya. Bahkan mereka tak segan-segan membagi cerita tentang pengalamannya. Na'udzubillah.

Baiklah, tak hanya dari penuturan mulut ke mulut, aku juga pernah secara langsung bertemu dengan salah satu tersangka pelaku khalwat. Saat itu aku masih merupakan pelajar Madrasah Aliyah dan selalu melakukan perjalanan pulang-pergi Banda Aceh - Indrapuri dengan menumpang labi-labi di setiap weekend.

Ya, di sanalah aku bertemu perempuan itu. Saat itu labi-labi yang aku tumpangi sepi, hanya aku yang duduk di dekat pintu dan beberapa siswi SMP yang baru saja pulang sekolah. Beberapa jauh perjalanan, seorang perempuan yang mengenakan celana jeans ketat dan kaus oblong berwarna kuning gelap dan tanpa jilbab ikut menumpangi labi-labi yang menuju Banda Aceh tersebut.

Semenjak duduk di hadapanku ia terus saja berceloteh tentang dari mana ia dan kemana tujuannya. Lalu topiknya mulai aneh karena ia berbicara tentang apa yang baru saja ia lakukan semalam tadi, sengaja menggapai-gapaikan tangannya ke arahku dan para siswi SMP untuk menarik perhartian kami. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan tersebut. Sampai ia akhirnya benar-benar memaparkan kronologi pengalaman khalwatnya dan para siswi SMP yang memperhartikan dengan seksama, aku sungguh ingin menendangnya keluar!

Well, dari celotehan awal aku tahu ia berasal dari keluarga broken home dan mungkin saja mengalami gangguan jiwa, karena tak mungkin orang waras demikian bangganya menceritakan kasus khalwatnya kepada orang asing apalagi scene ketika dipergok warga dan dimandikan air got ikut dilibatkan dalam plot cerita. Dan ketika aku iseng bertanya, ia menjawab pernah beberapa kali dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh ibunya. Baiklah, ini pelaku khalwat gila! Dan kesimpulan lainnya, pelaku khalwat dengan gangguan jiwa jauh lebih berbahaya karena ia bersedia membeberkan apapun itu kepada semua orang.

Musabab bertemu dengan perempuan itu, aku kemudian mulai merasa was-was ketika hendak menumpang labi-labi, takut akan bertemu orang aneh lainnya. Terlebih lagi dari perbincangan ibu-ibu gosip di dalam labi-labi, saat itu tengah marak isu tentang penumpang laki-laki yang bisa dikatakan menumpang labi-labi dengan maksud tertentu. Tak perlu kurincikan maksud itu.

Dunia gelap remaja dan mahasiswa di Aceh ibarat fenomena gunung es. Hanya sedikit kasus yang terungkap ke publik. Ketua lembaga Selamatkan Anak Emas Indonesia (SEMAI) Banda Aceh, Qudus Husein mengatakan remaja Aceh saat ini berada di pintu darurat pornografi dan dekadensi moral. Menjamurnya layanan internet tanpa kabel menggunakan teknologi wi-fi (hotspot) di tempat publik menjadi faktor paling dominan mengarahkan remaja berperilaku menyimpang.
Qudus menyebutkan banyak kasus ditemukan ABG terjerumus dalam perilaku seks bebas berawal dari mudahnya mereka mendapat akses internet berbau porno.

Nah, mungkin banyak orang tidak sadar. Tapi aku ingin menyarankan satu hal; Kurangilah menonton romace drama! Kau bisa lihat sendiri bahwa kebanyakan dari tontonan itu mengandung unsur seks yang sangat kentara. Dan sifat alamiah manusia yang cenderung punya keinginan kuat untuk meniru apa yang dilihat menjadi ancaman bagi diri sendiri.

Duh, tiba-tiba jadi teringat, mungkin saja keleluasaan mengakses konten porno di masa ini menjadi salah satu penyebab utama merajalelanya penderita Exhibitionism di Banda Aceh.

Telepon dari ayah dan permintaannya agar aku membaca koran akhirnya kembali mengingatkanku tentang beberapa pengalaman tak mengenakkan tentang isu ini. Sekaligus menkonfirmasi pada diri sendiri bahwa apa yang selama ini kudengar dari teman-teman adalah benar adanya, tak hanya kebetulan.

Baiklah, mungkin hingga akhir tulisan ini aku tidak juga dapat memastikan apakah ada benang merah antara suara serak ayah dan berita yang ia baca pagi ini. Tapi rasa khawatir yang menyelubungi perasaanku semenjak mendengar suara ayah pagi ini semakin kental tatkala mengikuti sarannya untuk membaca koran. Ayah pasti cemas luar biasa.

Aku sangat menghargai beliau atas semua itu karena tentu saja itu menjadi ungkapan besarnya cinta beliau kepada kami anak-anaknya. Sifat protektif seorang ayah yang akan selalu melindungi anak-anaknya dari segala macam hal yang merusak.

Terima kasih, Ayah <3