Friday, July 12, 2013

Bidan Vs Bidin



 Ketika menulis ini, saya sedang dalam keadaan mumang (pening). Jadi maklum saja kalau isi note ini tidak lebih dari sekedar pikiran ngawur dan amburadul.

Menilik judulnya, jangan pikir saya akan membahas mengenai masalah kesehatan dan bla bla bla… Tidak sama sekali! Iya, mungkin sedikit :p

Baiklah, sekarang Ramadhan hari kedua, malam ketiga tarawih, dan saya mulai merasakan Sesutu yang tidak beres dengan tubuh saya. Kasus pertama, sakit perut dimulai sejak sahur hingga menjelang berbuka. Kasus kedua, pening mendera dua puluh empat jam sehari. Kedua hal tersebut menyebabkan saya hamper tumbang saat melaksanakan tarawih kemarin malam. Saya kehilangan keseimbangan dan kesulitan untuk focus pada bacaan shalat. Bicara mengenai sakit perut, saya tetap merasakannya bahkan ketika tidur dan bermimpi!

 Lalu apa hubungannya dengan bidan?

Nah, sekarang saya akan membuat dua topic ini nyambung.

Sebagai orang kampong, say lebih suka berobat ke bidan dari pada ke rumah sakit/klinik. Alasannya? Dekat dan murah (kayaknya itu slogan sebuah swalayan swasta local deh, hehe).

Tapi tetap saja, berobat ke bidan tidak selamanya menyenangkan. Bidan-bidan desa mempunyai daya tarik dan daya tolak tersendiri, semua itu tergantung pada kepribadian si bidan tersebut. Jika seorang bidan itu jutek, kira-kira ada yang mau menjadi pasiennya? Sementara masyarakat desa sangat sensitive perihal tata karma dan keramah-tamahan.

Mala mini, saya berangkat ke rumah bidan di desa sebelah bersama ayah. Namun ternyata sesampai di sana, tidak ada orangnya! Entahlah, mungkin beliau belum pulang tarawih atau pulang ke kampong asalnya. 
Kemudian ayah menawarkan ke bidan di desa sebelahnya lag, saya menolak. Meski beliau lumayan terkenal, tapi saya belum pernah berobat ke sana, bahkan tidak pernah mampir sama sekali. Tidak tahu mengapa, hanya saja say tidak tertarik untuk ke sana. Apalagi setelah beberapa saudara berobat ke sana dan mengeluhkan hasilnya. Ehm…

Bidan di desa sendiri? Beliau baru bertugas, jadi saya tidak begitu kenal dengannya. Otomatis lupa kalau di desa sendiri juga ada bidannya. Huhu…

Ya. Bidan desa. Sebagai tenaga kesehatan yang mempunyai kontak langsung dengan masyarakat, tentu saja ia tidak lepas dari penilaian penduduk di tempatnya bertugas dan lingkungan sekitar. Sebab itu, tingkah polah seorang bidan desa tak jarang menjadi perhatian. Melahirkan pujian bahkan cemoohan.

Tidak semua bidan akrab dan disenangi masyarakat. Faktornya bisa jadi kepribadian sang bidan itu sendiri, yang mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap dirinya. Seperti suatu kasus yang pernah terjadi lingkungan saya, seorang bidan yang baru ditugaskan hanya menempati ‘rumah dinas’nya tiga hari dalam seminggu, itu pun hanya setengah hari. Selepas dhuhur ia sudah tidak bisa ditemui lagi. Sehingga ketika ada yang sakit di luar ‘jam praktik’ si bidan, masyarakat terpaksa mendatangi bidan di desa sebelah atau pun pergi ke puskesmas. Hal ini pada akhirnya menyebabkan warga ogah berobat padanya sehingga ia hamper kehilangan pasien sama sekali.

Panjang dan membosankan? Baiklah, saya tidak akan melanjutkan ini. Lagipula, itu bukan urusan saya :p

Pertanyaan saya yang sebenarnya; KENAPA BIDAN ITU HANYA PEREMPUAN?

Ya, kenapa?

Akademi Kebidanan (Akbid) sekarang menjamur di mana-mana. Perempuan pun berbondong-bondong menimba ilmu di sana. Setiap tahun saya selalu mendapatkan (yang entah dari mana asal-usulnya) brosur penerimaan mahasiswa baru akbid. Baca ulang: Mahasiswa. Lalu kenapa isinya mahasiswi? =.=

Meneliti lebih lanjut, terkadang pihak akademi tidak menuliskan gender perempuan sebagai syarat untuk mendaftar di brosurnya. Lalu kenapa hanya perempuan? Di mana peraturannya? Undang-undang? (Yang tahu tolong jawab). Sementara sebaliknya, profesi dokter spesialis kandungan didominasi kaum lelaki. 

Apakah ini sudah merupakan suatu perjanjian tak tertulis? Kaum adam memegang kendali di gelar Sp.OG sementara kebidanan menjadi ranah kekuasaan perempuan? Hom keuh…


Pertanyaan selanjutnya, kalau suatu saat kaum lelaki berprofesi sebagai bidan, kira-kira apa sebutannya? 
BIDIN?

disclaimer


Hahaha… Pikiran kacau saya mulai mencuat. Sepertinya efek bubur ketan dan tumis keumamah XD

Kemudian saya mulai membayangkan seorang bidin bertugas layaknya bidan. Mengunjungi rumah ibu-ibu yang baru melahirkan dan memandikan bayi setiap paginya. Mengecek kondisi ibu hamil secara rutin di desa tempatnya bertugas, mengelola posyandu dan memberikan layanan kesehatan kepada setiap warga yang datang berobat ke rumahnya.

Lucu ya? Membayangkan yang melakukan semua hal di atas adalah seorang lelaki, bapak! :D

Memanglah, sebaiknya seorang bidin itu tidak diciptakan. Bagaimanapun, tidak seru melihat seorang bapak berkeliling desa mengunjungi rumah ibu hamil/menyusui setiap harinya, memandikan bayi dan memeriksa balita di posyandu. Tidaaak… biarkan saja bidan yang melakukannya!

Dan sumpah, saya tidak akan berobat ke bidin kalau ia ditugaskan di desa saya :p

Tapi kalo bidinnya seganteng ini, boleh juga deh :p

disclaimer
disclaimer

disclaimer

Indrapuri, 110713