Monday, May 13, 2013

Sindrom Pra UN (2012)


Tidak sampai 24 jam lagi, kami, pelajar kelas tiga Madrasah Aliyah sederajat, akan menuju medan pertempuran terakhir, ruang Ujian Akhir Nasional. Saraf telah menegang semenjak sepekan yang lalu. Kemudian ketika Aceh diguncang pada hari Rabu, kegalauan semakin berat menekan pundak saya dan kawan-kawan.

Perlengkapan perang dan kesiapan mental diutamakan. Diawali dengan membaca Surah Yasin berjamaah, pemberian motivasi dari dewan guru dan diakhiri dengan pembagian kartu ujian beserta perlengkapan perang.
Perjalanan kaki menuju rumah diwarnai grogi yang semakin menjadi. Badan mulai gemetar dan pikiran gelisah. Entah, apakah benar-benar karena memikirkan UAN atau ketakutan akan gempa susulan, lantaran rumah kontrakan kami berada dalam kawasan rawan Tsunami.
Dalam diskusi tak berujung dengan teman kost, pertanyaan-pertanyaan tak lulus sensor pun terlontarkan;
“Gimana kalo gempa waktu kita lagi ngisi LJK?”
“Apa jadinya jika gedung sekolah roboh dan kita harus ujian di tenda darurat atau bahkan di tengah lapangan?”
“Apa yang harus kita lakukan kalau denger sirine Tsunami berbunyi di saat ujian?”
“Aku memilih lari daripada mati sambil memeluk soal-soal itu!”
“Apabila kita ngga lulus karena insiden di atas, mari ramai-ramai berdemo di depan Dinas Pendidikan!”
“Kalo musibah terjadi di hari UN, harusnya pemerintah meluluskan kita semua! Itu lebih berarti dari pada membangun gedung sekolah baru tapi kita harus ngulang setahun lagi!”
“…”

Diskusi tak putus dimulai dari bangun tidur hingga makan siang, lalu berlanjut lagi saat santai selepas mencuci, tak terkecuali saat antri mandi. Sesekali tetangga sebelah kamar yang notabene mahasiswi Akademi Farmasi ikut nimbrung dalam perbincangan, berbagi pengalaman UN dua tahun yang lalu.
Tak jauh berbeda dengan kami, ternyata mereka juga pernah menderita Sindrom Pra Ujian Nasional. Adapun gejala utamanya adalah GELISAH (Gugup, Engga selera makan, Linglung, Insomnia, Sensitif, Amnesia mendadak dan Heboh).
Khawatir dengan kondisi lahir batin kami yang tampak semrawut, kakak-kakak yang baik hati tersebut menyarankan kami agar tak lagi memaksakan diri untuk belajar, karena memang tak lagi efektif. Ada benarnya, melihat kumpulan soal yang berserakan di depan mata hanya membuat muak dan menambah stress. Begitulah, kami pun memutuskan hubungan dengan buku.
Dengan sedikit gontai saya masuk ke kamar, menghidupkan kompi dan mulai beternak. Farm Mania days 46, uang saya sudah mencapai $640.528, cukup banyak jika dirupiahkan. Namun sayang, uang sebanyak itu cuma sederet angka yang tak dapat ditunaikan. Sementara itu dua teman sekamar saya memilih jalan masing-masing. Seorang menonton film terbaru yang didapat dengan cara bertukar flashdisk dengan temannya, dan seorang lagi langsung menyambar guling lalu tiduran di lantai. Saya tak tertarik menebak apa yang diimpikannya.
Saya terus focus memperluas lahan, menjual hasil panen dan memberi makan binatang ternak. Seraya mendengar music dan mata tak lepas dari LCD, saya berdoa semoga tidak ada kendala semasa ujian nanti. Entah doa saya akan diterima atau tidak, karena saya tidak memenuhi adab dalam berdoa.
Matahari telah meninggi dan beranjak turun, yang saya lakukan seharian itu hanyalah bermain game, melupakan semua soal matematika yang telah saya pelototi tanpa menyelesaikannya dengan benar selama seminggu belakangan.
Jeda sejenak untuk shalat, kemudian kembali menekuni laptop. Jangan tanya perihal makan siang, sudah saya sebutkan di atas bahwa salah satu gejalanya adalah “engga selera makan”.
Sejujurnya saya tidak benar-benar menikmati game tersebut, yang dilakukan hanyalah mengontrol gerakan pointer untuk memerintahkan si “farmer” melakukan ini dan itu. Dia hanya seorang bekerja mengolah lahan ditemani kakeknya yang hanya bisa menimba air (grrr). Ah, ada satu lagi, seseorang yang membantu mengantar hasil kebun ke pasar. Pertama-tama dia naik sepeda, kemudian ketika si farmer sanggup membeli motor, dia juga yang mengendarainya. Sampai akhirnya hasil panen melimpah dan si farmer membeli mobil pick-up, dia juga yang menjadi sopirnya. Tapi jangan tanya siapa namanya karena saya tidak sempat berkenalan, dia dating ketika si farmer siap memanen dan pergi begitu saja setelah menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara si farmer sendiri tidak pernah pindah dari kawasan lahan, apalagi kakeknya. Kasian.
Kenapa saya jadi membahas game? Sebenarnya tokoh utama di note ini siapa? Saya atau si farmer?
Balik lagi ke game *jitak**putar arah*
Pada akhirnya saya tidak menamatkan game tersebut – tentunya karena tidak sabar.
Kembali bingung dengan apa yang hendak dilakukan, saya bangkit dari lantai, meraih handuk dan bergegas untuk mandi. Sebentar lagi ashar tiba. Saya jadi was-was, ketakutan akan adanya gempa susulan, mengingat gempa pertama juga terjadi sekitar waktu ashar.
Alhamdulillah, sore tersebut dilalui dengan tenang. Saya sungguh bersyukur karena bumi sedang tidak mood untuk bergoyang, setidaknya Tuhan masih member kesempatan kepada para pelajar yang sedang GELISAH ini untuk menormalkan kembali degup jantung yang sempat berpacu dua kali lebih cepat.
Selesai mandi dan shalat ashar, kembali lagi pada kondisi semula; bingung dan hampa.
Apa yang harus dilakukan? Belajar? Lempar jauh-jauh kata itu sekarang! Siapa yang masih sudi melihat daftar rumus matematika-fisika-kimia yang setelah tiga tahun dipelajari tapi tak kunjung sukses dihafal? Sepertinya hanya saya seorang yang sebodoh ini ya. Terus terang, mengutak-atik rumus pada situasi ini dapat menyebabkan saya mual-mual dan mengalami serangan jantung yang berujung pada gangguan fungsi otak. Kalimat ini lahir karena saya membenci pelajaran yang “per-hitung-an”.
Huft! Mengeram di kamar seharian membuat isi kepala saya seperti tulang yang mengalami pengapuran. Kaku dan tidak dapat mengerjakan fungsinya. Saya harus keluar, SAYA HARUS KELUAR! *salah tekan capslock*
Maka jadilah saya menyeret kedua teman sekamar untuk berjalan-jalan di seputaran rumah. sekedar untuk menghilangkan suasana sumpek dalam kamar, agar hidung dapat menghirup oksigen dari ruang yang lebih luas. Berhubung letak gedung sekolah hanya sekitar 50 meter dari rumah, langkah kami pun mengarah ke sana. Bukan tanpa tujuan, seperti pada ujian semester setiap tahunnya, kami selalu mendatangi sekolah pada H-1 untuk mengecek ruang sehingga esoknya kami tidak terburu-buru dan kesasar di sekolah sendiri. Ya, hanya mengecek ruang, jangan pikirkan yang lain, guys!
Ternyata tidak ada perubahan, ruang ujian kami esok hari adalah ruang yang sama dengan yang kami tempati selama tiga kali try out yang telah kami ikuti. Puas berkeliling sekolah dengan perasaan campur aduk, kami pun pulang, tetap was-was dan siaga dengan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi.
Selanjutnya, ketika malam tiba dan jantung semakin keras menggedor-gedor dada, yang kami lakukan adalah mengecek ulang perlengkapan perang untuk mengurangi ketegangan. Satu hal lagi yang tidak pernah tersingkir dari agenda malam pra ujian: mengirimkan sms-sms ‘motivasi’ kepada seluruh teman-teman yang ada di contact list. Ya, spamming di inbox teman-teman senasib dan seperjuangan sudah menjadi kebiasaan sebelum ujian.
Oke, stop menyampah sekarang! Besok adalah pertarungan penting. Saya harus cepat tidur untuk menjaga stamina dan menghindari anemia esok hari.
Masukkan semua ‘perkakas’ itu ke dalam tas! Ke kamar mandi, cuci muka, kaki dan sikat gigi. Matikan lampu kamar, tarik selimut dan pejamkan mata.
Yosh~
Sebelum pertarungan melawan rumus esok pagi, mala mini saya harus bertarung terlebih dahulu menekan gejala insomnia.
Allahumma bismika ahyaa wa bismika amuut

Jambo Tape, April 2012