Wednesday, April 24, 2013

Rindu Itu Tak Kunjung Berlalu


Sore ini kulihat kau berjalan menyusuri koridor sekolah sendirian. Ingin sekali rasanya aku menyapa dan berjalan bersisian denganmu, seperti yang dulu kerap kita lakukan. Saat itu hanya ada kau dan aku, tapi aku tak memiliki sedikitpun keberanian untuk menegurmu. Hingga akhirnya kau pun berlalu, jauh meninggalkan aku yang masih mematung di pintu kelas.

***



Kelas riuh luar biasa. Pak Faisal, guru yang bertugas mengajar sekarang tak jelas dimana keberadaannya. Guru kimia yang hobi melancong ini berkoar-koar sabtu lalu bahwa ia akan pergi ke Bali untuk suatu kepentingan yang padahal sama sekali tak penting, syuting film. Dan seperti yang sudah-sudah, kami menebak bahwa hanya jempolnya saja yang akan muncul di layar lebar, atau jika tampil seluruh badan, hanya sebagai figuran yang tugasnya berlalu lalang dibelakang pemeran utama bersama figuran lainnya.
Teman-temanku sibuk dengan dirinya sendiri, dengar musik sambil bergosip, kebiasaan anak SMA jikalau guru absen mengajar. Tapi aku membenci kebiasaan ini, karena aku sama sekali tak menyukai kebisingan, dan aku tak punya apa-apa untuk dilakukan.

Kuputuskan untuk menemui sahabatku di kelasnya. Ia duduk sendiri di bangkunya. Tak ada siapa-siapa di sana. Ku tebak, mereka semua pasti merayap ke kantin untuk menyantap bakso sambil memandangi lapangan basket yang dipenuhi oleh siswa-siswi yang dengan sukarela harus menanggung derita di jemur selama satu jam akibat datang terlambat. Aku tersenyum, dari dulu ia memang tak menyukai keramaian, hal inilah yang membuat kami sangat dekat. Kami memiliki banyak kebiasaan yang serupa.
"kenapa kau hanya mematung saja disitu?" suaranya mengagetkanku. Aku sungguh malu, lagi-lagi ia memergokiku bengong di depan pintu.

"kau sedang apa sendirian di kelas?" Aku balik bertanya. Sebisa mungkin menghindari menatap wajahnya yang menunjukkan ekspresi ingin tertawa. Ia pasti sangat senang berhasil memergokiku bengong untuk yang ke sekian kalinya.

"aku mencoba menulis puisi..." mimik wajahnya berubah serius. Aku merasa sedikit bersalah tak membiarkannya tertawa, hanya karena ia ingin menertawakan kebodohanku. Padahal aku pun sering menertawakannya. Egois.

Pandangannya beralih pada kertas lecek di tangannya. Sepersekian detik kemudian, kertas itu pun melayang dan dengan sukses mendarat di tong sampah. Aku tertegun ketika tahu telah banyak kertas malang yang mengalami hal serupa.

"susah cari inspirasi?" aku meniru iklan sebuah surat kabar nasional.
Ia hanya mengangguk perlahan.

"aku punya tempat favorit untuk menulis puisi. Mari ku ajak kau kesana..." Ia bangkit dan tersenyum. Lantas melangkah bersama ke tempat yang ku maksud.

***

Dan disinilah aku sekarang, di tempat dulu aku dan sahabatku sering menghabiskan senja bersama, taman belakang sekolah yang indah. Dengan danau kecil dan pepohonan akasia di sekelilingnya. Kami sering duduk bersama di bangku besi dan merangkai bait-bait puisi sambil menunggu mobil yang akan menjemput kami. Begitu pun petang ini, aku dan dia sama-sama berada disini. Hanya saja kami seolah tak melihat satu sama lainnya, atau bahkan menganggap tak ada sama sekali.

Aku duduk di bibir danau. Membelakangi sahabatku yang masih menggoreskan penanya. Aku tak lagi punya keberanian untuk menatap wajah indah hasil perpaduan Aceh-Belanda tersebut, apalagi untuk menyapanya. Mungkin memang fitrahku sebagai perempuan demikian adanya. Tak ada keberanian dalam diriku untuk menyapa lelaki yang telah mendiamkanku. Jadi ku coba untuk menikmati saja saat-saat yang menyiksa ini.
Aku bosan. Pak Harun sopir keluargaku tak juga datang menjemput, sementara aku sudah tak tahan berada dalam suasana ini untuk waktu yang lebih lama. Jilbabku melambai-lambai diterba angin senja yang mulai dingin. Matahari perlahan menarik dirinya ke balik bukit. Jiwaku mulai resah, sebentar lagi langit akan menurunkan tirai malamnya. Sedangkan pak Harun tak jua muncul di hadapanku. Dengan enggan akhirnya aku berjalan meninggalkan taman menuju halte terdekat. Meninggalkan sahabatku yang masih tetap membisu.

***

Minggu yang tak bergairah. aku bangun tepat ketika bunda menggedor pintu kamarku untuk yang kelima kalinya, disertai dengan ancaman akan memboikot jatah sarapanku kalau dalam hitungan dua puluh detik aku tak membukakan pintu.

Samar-samar kulihat wajah garang bunda dari celah pintu yang sedikit kubuka, hanya untuk sekedar memberi tahu bahwa aku telah bangkit dari kematian sesaat meski aku punya rencana untuk melanjutkannya. namun melihat segayung air ditangannya, aku terpaksa mengurungkan niatku dan bergegas meraih handuk, sebelum beliau mengambil tindak lanjut menyeretku ke kamar mandi.

setelah menjalani semua ritual pagi hari (tak peduli waktunya yang telah jauh melenceng) Bunda membiarkanku kembali melanjutkan persemedian di kamar. maka dengan segera aku mengayun langkah menuju kamar khawatir kalau-kalau ia berubah fikiran dan berbalik memintaku menemaninya berbelanja. dulu aku selalu punya alasan untuk menghindar, karena minggu merupakan hari untukku bersantai ceria bersama sahabatku.

tak ku sangkal, kamarku yang sempit sudah cukup membuatku bosan. namun aku tak punya pilihan selain bertahan. Di seberang jalan sana, rumah sahabatku berdiri megah. sebulan lalu aku masih sering bertandang kesana. baik dengan tujuan mengerjakan tugas bersama, atau pun hanya sekedar jalan-jalan semata. sesekali menyusup ke dapur dan mencicipi kue dari resep terbaru hasil racikan ibunya. tapi semenjak sahabatku berubah, aku tak pernah lagi ke sana. dan ia pun tak pernah lagi mampir ke rumahku.

setelah peristiwa taman belakang sekolah petang kemarin, aku sama sekali gerah. tak tahan dengan sikapnya yang mendadak berubah. aku bermaksud akan mengunjunginya hari ini. untuk itu, aku perlu mengumpulkan keberanian yang masih tersisa dalam diriku.

dari balik jendela kamar aku melihat ia melajukan mobilnya keluar rumah. aku hanya menatapnya kaku, berharap ia akan melihatku. tidak sia-sia, ia menoleh dan tersenyum. senyum yang telah lama aku nantikan. tergesa aku berlari keluar rumah, menyongsongnya...

namun nyatanya aku terlambat. sosoknya telah menghilang bersama mesin tunggangannya yang mewah. tiada yang tersisa...

ketika kembali ke kamar, aku menemukan sebuah pesan pendek di inbox ponselku,

from: sahabatku
asslm..
maaf sahabat, aku harus pergi.
maaf karena aku tidak pernah memberitahu bahwa aku akan tinggal bersama keluarga ayahku hingga tamat kuliah.
sampai bertemu kapan2,
mungkin 10thn lagi kita akan berjumpa kembali
c u :)

***