Thursday, April 25, 2013

About Him

disclaimer

Telat lagi!

Kuayun langkahku secepat mungkin. Menyusuri jalan tersingkat menuju sekolah. Dari pagar rumah ibu melambai-lambai memanggilku dengan suara yang lebih keras dari biasanya, "Re, kau lupa bekalmu!" Teriaknya dari kejauhan.

Aku mengangkat sebelah tanganku dan membalas lambaiannya tanpa menoleh."Sudah terlanjur telat, Bu!" Jawabku dengan volume suara yang juga ditinggikan.

Akhir-akhir ini musibah selalu menyambangi kehidupanku. Hampir setiap pagi aku bangun telat dan terlambat sampai di sekolah. Teman-temanku bahkan telah menyematkan gelar kehormatan bagiku, Ratu Jogging.

What? Itu karena kebiasaanku berlari ke sekolah saban pagi. Baru beberapa minggu ini. Semenjak...

"Re, kau telat lagi? Cepat naik." Sebuah motor matic parkir di depanku. Hampir saja aku menabraknya kalau aku tidak sigap mengerem langkahku.

Difka, tetangga sekaligus teman sepermainanku sejak TK menjadi malaikat penyelamatku hari ini. Aku bergegas naik ke jok motornya dan memberi isyarat padanya agar segera melaju. Peduli apa pada kepalaku yang tidak dilindungi helm.

"Rio tidak datang juga hari ini?" Tanyanya seraya menghidupkan mesin motor.

"Tolong jangan bahas dia sekarang!" Moodku berubah buruk.

***



Aku punya banyak sahabat, mereka semuanya memiliki kepribadian yang unik dan menarik. Takkan ada hal yang mampu membuatku bosan ketika berkumpul dengannya, meskipun setiap hari kami menghabiskan waktu bersama.

Namun seminggu terakhir ini aku mempunyai masalah dengan salah seorang sahabatku.
Aku merasa ia menjauhiku, dan itu terjadi semenjak ia mulai berpacaran. Ia tidak pernah lagi menghubungiku. Tidak ada sms motivasi atau sekedar menanyakan kabar, bahkan ketika bertemu pun ia tak menyapa. Aku sakit hati.

Lalu entah siapa yang memulai, kami saling menghindar untuk bertemu, ketika tak sengaja berpapasan di koridor sekolah, kami berpura-pura tak saling melihat. Tak ada lagi tegur sapa, apalagi mengharapkan ia berbagi cerita. Situasi berubah menjadi sangat asing, seolah kami tidak saling kenal satu sama lainnya.

Sejujurnya aku tersakiti oleh keadaan ini. Dulu aku memilikinya sebagai sahabat terbaik. Namun entah setan apa yang merasuki kami sehingga hubungan kami runyam begini. Aku tak berani mengatakan bahwa pacarnya cemburu dengan kedekatan kami, sehingga ia memintanya untuk menjauhiku, meski sebenarnya benakku pernah membisikkan fikiran negatif tersebut. Aku memang tidak mengenal baik pacarnya, hanya sebatas tahu nama dan wajahnya. Namun aku rasa tak sepantasnya ia bersikap begitu.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkin kami sama-sama egois?
Tidak, terus terang aku tidak setuju dikatakan egois. Bukan tidak pernah aku menghubunginya. Semenjak pertama kali ia mendiamiku di sekolah aku sudah mencoba berbicara dengannya, menanyakan kesalahan yang mungkin kuperbuat. Tapi ia sama sekali tak menggubris. Jika dihitung, mungkin ratusan sms telah kukirim sehingga memenuhi inbox handphone-nya. Tetap saja aku tak mendapatkan jawaban atas tanya yang kulontarkan..
Sekarang, aku tidak lagi berani mengajaknya bicara, apalagi di sekolah, setelah semua ini..

Sedih, sakit hati. Perlahan, rasa benci mulai menghinggapi hatiku. Aku jadi benci padanya, aku tidak ingin melihat wajahnya, tidak ingin mendengar namanya. Aku marah ketika ada yang memanggilku dengan membubuhkan namanya di belakang namaku, olok-olokan teman-teman sekelas yang selama ini kutanggapi dengan senyuman.
apakah aku egois?

Terkadang aku berfikir, mungkin dia tengah mengujiku. Tapi sisi lain hatiku menyangsikannya, lalu aku kembali pada kebencianku.

Sesungguhnya, aku tak ingin ini terjadi, sungguh-sungguh tidak!
Namun aku tidak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang. Apakah aku harus tetap menghubunginya dan berharap ia akan membalas? Ataukah aku diam saja?

"Hai, Re. Sedang apa kau?" Suara seseorang terdengar. Aku segera mengakhiri curhatan mendadakku di catatan Matematika. Lalu menutup halamannya dengan tergesa.

"Ah, tidak apa-apa. Hanya membuang sampah di kepala." Jawabku dengan sedikit menghindar.

"Tentang Rio, ya?" Tebaknya tepat sasaran.

Aku melirik dengan jengkel. Semua teman-temanku sudah tahu perihal kekakuan hubungan kami. Namun mereka tidak mengetahui penyebabnya, termasuk aku.

"Hey, jangan menatapku seperti itu!" Kevin memalingkan wajahnya, "sorot matamu mengerikan sekali." Komentarnya sambil membalikkan badannya.

"Ah, mungkin karena itu Rio menjauhiku." Gumamku pada diri sendiri. "Mungkin aku tidak selembut pacarnya."

"Kau bicara apa?" Kevin menoleh.

"Bukan apa-apa." Jawabku seadanya.

"Hhh... yasudahlah. Mari pulang. Sebentar lagi pak satpam akan mengunci gerbang sekolah. Akhir-akhir ini kau suka sekali bersemedi di kelas." Ujar Kevin sambil menyandang tasnya. Ia baru saja selesai latihan basket. Sementara aku sendiri berdiam di sekolah tanpa alasan yang jelas.

Aku mengangguk dan memasukkan semua barangku yang berserak di meja, lalu berjalan mengikutinya ke luar kelas.

"Mau kuantar?" Tawarnya saat kami menuruni tangga. "Tapi hanya sampai gerbang sekolah. Hahaha..."

"Terimakasih." Aku menimpuk kepalanya dengan buku pelajaran Bahasa Indonesia yang sedang kupegang. Anak ini, senang sekali mempermainkan orang.

Kami berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah. Ketika sampai di deretan kelas X, aku melihat Rio sedang bersama pacarnya. Berbicara riang dengan diiringi tawa ringan darinya. Tawa yang dulu kulihat saban hari. Kini, aku bahkan tak pernah lagi mendapat secarik senyum darinya.


Jambo Tape, 25/04/2013