Tuesday, April 30, 2013

Negeri Senja

disclaimer

Aku ingin pulang ke negeri senja
disana matahari pulang keperaduan diantar camar-camar yang riuh menyapa
Aku ingin pulang ke negeri senja
Di tempat sang surya selalu membias senyum berwarna jingga
Aku ingin pulang ke negeri senja
di tempat gemercik air laut
tak pernah bosan melambai pada matahari
Aku ingin pulang ke negeri senja
ditempat kepiting-kepiting pasir keluar sarang menyambut malam yang penuh bintang
Aku ingin pulang ke negeri senja
ditempat sejuta kedamaian merangkul erat pundak manusia
Aku ingin pulang ke negeri senja...

*Kamar Kos, 081010

Thursday, April 25, 2013

About Him

disclaimer

Telat lagi!

Kuayun langkahku secepat mungkin. Menyusuri jalan tersingkat menuju sekolah. Dari pagar rumah ibu melambai-lambai memanggilku dengan suara yang lebih keras dari biasanya, "Re, kau lupa bekalmu!" Teriaknya dari kejauhan.

Aku mengangkat sebelah tanganku dan membalas lambaiannya tanpa menoleh."Sudah terlanjur telat, Bu!" Jawabku dengan volume suara yang juga ditinggikan.

Akhir-akhir ini musibah selalu menyambangi kehidupanku. Hampir setiap pagi aku bangun telat dan terlambat sampai di sekolah. Teman-temanku bahkan telah menyematkan gelar kehormatan bagiku, Ratu Jogging.

What? Itu karena kebiasaanku berlari ke sekolah saban pagi. Baru beberapa minggu ini. Semenjak...

"Re, kau telat lagi? Cepat naik." Sebuah motor matic parkir di depanku. Hampir saja aku menabraknya kalau aku tidak sigap mengerem langkahku.

Difka, tetangga sekaligus teman sepermainanku sejak TK menjadi malaikat penyelamatku hari ini. Aku bergegas naik ke jok motornya dan memberi isyarat padanya agar segera melaju. Peduli apa pada kepalaku yang tidak dilindungi helm.

"Rio tidak datang juga hari ini?" Tanyanya seraya menghidupkan mesin motor.

"Tolong jangan bahas dia sekarang!" Moodku berubah buruk.

***

Wednesday, April 24, 2013

Rindu Itu Tak Kunjung Berlalu


Sore ini kulihat kau berjalan menyusuri koridor sekolah sendirian. Ingin sekali rasanya aku menyapa dan berjalan bersisian denganmu, seperti yang dulu kerap kita lakukan. Saat itu hanya ada kau dan aku, tapi aku tak memiliki sedikitpun keberanian untuk menegurmu. Hingga akhirnya kau pun berlalu, jauh meninggalkan aku yang masih mematung di pintu kelas.

***

Serial Ali : Episode Boh Rambot

  Perkenalkan, namanya Ali, salah satu dari sekian banyak aneukmiet di desa Lam Ilie Blang. Usianya baru 13 tahun, siswa kelas 1 MTsN desa setempat. Ia anak ke 3 dari 4 bersaudara, dan semuanya laki-laki. Namun saudaranya tinggal Adi dan Ahmad, sedangkan Amin, anak kedua meninggal saat berusia 10 tahun pada suatu kecelakaan yang konyol akibat kenakalannya sendiri, tenggelam di sumur keramat di kebun rambutan.

      Kini rambutan di Indrapuri tengah ranum. Dan itu berarti 1 tambahan tugas baru bagi Adi dan Ali, dua pangeran nakal dari keluarga Yunus. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Adi ditugaskan ayah menjaga kebun di siang hari sepulang sekolah, sedangkan Ali dikhususkan sebagai tukang petik ketika panen tiba. Namun Ali tak puas oleh pembagian tugas tersebut, dengan senang hati ia menawarkan diri pada Adi untuk membantunya. Jadilah setiap siang mereka berdua mengaso di balai kebun sambil makan pisang goreng yang di bawa dari rumah.      "Bang, bang, bang. Na tupee bak sagoe jeh!-ada tupai disudut sana!" Ali mengguncang-guncangkan pundak Adi dengan keras sehingga pisang goreng yang ada di tangannya jatuh kembali ke piring.

Di Tikungan Petang


Sejak kecil aku memang terbiasa melewati jalan ini tiap kali pergi ke meunasah, bukan karena tidak ada akses lain, melainkan lintasan yang melewati area persawahan membuat hatiku langsung terpikat semenjak pertama kali melaluinya. Di jalan ini pula pertama kali aku bertemu dengannya, suatu sore saat berangkat mengaji bersama teman-teman ke rumah Teungku Muhammad yang terletak di samping meunasah, aku iseng saja melempari kucing yang bermain di sekitar pagar rumahnya. Ia yang baru pulang bermain ternyata sempat melihat dan tidak senang dengan perlakuanku terhadap si kucing. Spontan saja ia kayuh kencang sepeda dan bermaksud menabrakku, tapi yang terjadi malah ia yang menabrak pagar dan terjatuh karena aku berhasil mengelak dengan sempurna. Ia terduduk di atas kerikil menangis karena lututnya luka. Aku dan yang lainnya segera tancap gas berlari sebelum neneknya yang terkenal garang keluar memarahi kami. Ya, kesan pertama semacam itulah yang kudapat darinya.


disclaimer

Rindu


Masih menunggu sinar mentari meredup. Menghimpun sisa-sisa rindu yang berserak di langit. Aku lelah sudah, bahkan rasa cintaku padanya telah menguap satu-satu. Entah berapa banyak yang masih bertahan membisikkan sabar di hatiku. ''dia akan pulang, percayalah!'' aku muak mendengar kalimat itu. Hanya selembar cinta berukuran kuarto yang membuatku masih tetap datang ke dermaga. Menunggu senja datang, menantinya pulang.

disclaimer

Kurapatkan syal yang membelit leherku, di penghujung tahun seperti ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya, aku tak mau membiarkan rasa dingin yang ia bawa menyusup ke dalam kulitku. Meski dengan penampilan seperti ini aku terlihat seperti orang eskimo salah alamat, aku tak peduli. aku datang ke sini karena punya kepentingan sendiri, tak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku.


Tuesday, April 23, 2013

Maulid dan Pernak-Perniknya.



Minggu lalu (14/4/13) merupakan hari perayaan maulid di desaku. Seperti yang diketahui, perayaan maulid di daerah-daerah di Aceh besar selalu meriah. Makan-makan dan ceramah menjadi unsure utama perayaan.
Sebenarnya tidak ada hal yang begitu special pada perayaan maulid kali ini. Seperti biasa, siang harinya warga menjamu tamu dari desa-desa tetangga dengan hidangan khas kenduri yang bertempat di meunasah dan beberapa rumah penduduk. Lalu pada malam harinya barulah giliran rohani yang diberi asupan gizi, ceramah maulid.
Para penceramah yang diundang pada gelaran peringatan maulid selalu humoris – sejauh yang saya temui. Entah itu sudah menjadi syarat wajib atau hanya inisiatif panitia agar warga betah mendengar hingga tengah malam. Karena jika pidatonya datar dan membosankan, dapat diperkirakan warga hanya bertahan sepuluh menit lalu berbondong-bondong pulang.

Monday, April 8, 2013

Studying or Writing?


image link
The war just begun!
Yeah, mid semester is a beginning of disaster.
To be honest, studying is one of things that I hate the most in this world. Why? Because it tiring. Even though there’s a lot of way to study, it’s still can’t attracted me.

Entering the middle of semester makes me feel uneasy. It’s mean that I’ll face midterm test and I should provide additional time to study. From now on, collage life will slowly become harder. 

I’m just a 1st year student in university. At first I think that I’m just lucky to pass national entering exam, I was really pessimistic, because I have no confident during the test. But Allah blessed me, He gives me an opportunity to studied Psychology in a university :)



[Lyric] Tsunagu Te to Te - Hey! Say! JUMP (Kanji, Romaji + English Translation)


Love this song? I do.
not just because it's easy listening, but the lyric is great to too ^^b

Even I don't really understand japanese, I fall to this song when the first time I listen to it. This is one of my favorite JUMP's song. 

If you don't ever heard this song or may never liking Japanese, I suggest you just to read the english translation of this lyric.

Thanks for reading. Arigatou ^^


KANJI

つなぐ手と手の感覚も 歩く足と足のリズムも
誰にも真似できないような 二人だけのスタイルになる

たまに僕より君の方が 男らしくあったりもして
誰かが何と言おうとも 二人だけの決め事になる

時が流れ 歳をとった二人が 飽きもしないで日々を繰り返すんだよ
笑ったり怒ったり泣いてみたり

きっと僕らは互いの弱さを知るからこそ 手をつなぎあうのだろう
どんなときでも離さないことが 本当の強さだと教えられた

晴れた日はしゃぎ回る日も 雨の日落ち込んだ日でも
誰からも邪魔をされない 2人だけの記念日になる

時間が流れ 年をとった2人が 飽きもしないで言葉を交わすんだよ
強がったり傷ついたり元気づけたり

何度僕らは悲しみの夜を これから先 乗り越えてゆくんだろう
同じ数だけ喜びの朝を むかえられると信じていよう

時間が流れ 年をとってゆくことを 誰も逆らうことはできないから
いつまでも変わらないものがあると 「ただ、 信じる」 その事が大切なんだ

きっと僕らは互いの弱さを知るからこそ 手をつなぎあうのだろう
どんなときでも決して離さない 今なら強く言葉にできるから

今なら言葉にできるから